Kerajinan · Dusun Segelan

Biting Bambu: Lidi Kecil di Balik Dupa, Sempol, dan Sate

Dari dupa yang menyala sampai sempol di gerobak langganan — banyak hal bertumpu pada lidi bambu kecil ini. Dari Dusun Segelan, lidi-lidi itu diserut satu per satu oleh tangan warga, sudah lebih dari dua puluh tahun.

Pesan via WhatsApp
4–5
ton/minggu
produksi dusun saat cuaca cerah
40–50
warga
terlibat dalam rantai produksi
20+
tahun
keterampilan diwariskan
Ikatan biting bambu hasil serutan tangan pengrajin Dusun Segelan, Desa Balesari

Kenalan Dulu

Apa Itu Biting?

Biting adalah lidi bambu tipis, lurus, dan serbaguna. Ia menjadi rangka batang dupa, tusuk sempol, tusuk sate, sampai berbagai keperluan dapur lain. Pada dupa, pasta wangi dibalutkan ke lidi ini dan ujung bawahnya disisakan polos sebagai pegangan.

Warga Segelan sendiri pernah memproduksi tusuk bakso sebelum masa pandemi. Kini permintaan terbesar memang datang dari pasar dupa, tapi lidi yang sama juga mengalir ke kebutuhan tusuk makanan.

  • Rangka batang dupa
  • Tusuk sempol, sate & bakso
  • Dijual per kilogram

Penggunaan paling umum: posisi biting pada dupa

Biting bambu — rangka & peganganPasta dupa — lapisan wangi yang dibakar

Cerita Perjalanan

Dari Blitar ke Segelan

Kerajinan ini tidak muncul tiba-tiba — ia menyebar dari satu keluarga ke hampir seisi dusun.

  1. Berawal dari saudara di Blitar

    Mulanya biting dari Segelan disetorkan jauh ke Blitar melalui kerabat, dengan harga kala itu masih sekitar Rp1.200 per kilogram.

  2. Pengepul hadir lebih dekat

    Seiring waktu, pengepul muncul di Sumbersari — warga tak perlu lagi mengirim jauh, hasil serutan cukup disetor dan dijemput mobil.

  3. Menyebar ke seisi dusun

    Melihat hasilnya, makin banyak keluarga ikut menyerut. Keterampilan menular dari orang tua ke anak, dari tetangga ke tetangga.

  4. Hari ini

    Puluhan warga terlibat dalam rantai produksi — dari penyerut rumahan hingga pengepul bermesin — dengan hasil ton-an biting setiap minggunya.

Dapur Produksi

Dari Rumpun Bambu Jadi Biting

Prosesnya kelihatan sederhana, tapi tiap tahap butuh ketelatenan — salah pilih bambu saja, lidinya mudah patah.

Bahan bakunya dipilih, bukan sembarang bambu

Bambu Petung

Berbatang besar dan tebal — bahan andalan karena seratnya kuat.

Bambu Jawa

Alternatif yang banyak tumbuh di sekitar dusun.

Bambu Apus

Lentur dan mudah dirajang halus.

Tidak semua bambu bisa dipakai — pengrajin memilih batang yang cukup tua langsung dari rumpunnya.

  1. Menebang & memotong

    Bambu tua dipotong per ruas, dipilih bagian yang lurus dan mulus.

    Pengrajin memotong bambu per ruas di kebun Dusun Segelan
  2. Membelah & membuang hati bambu

    Ruas dibelah memanjang; bagian dalam yang lunak — 'hati' bambu — dibuang karena mudah patah.

  3. Merajang jadi lidi

    Bilah bambu dirajang dan diserut menjadi lidi-lidi tipis berukuran seragam. Inilah tahap yang paling menuntut jam terbang.

    Tangan pengrajin menyerut bilah bambu menjadi lidi biting
  4. Menjemur

    Lidi dijemur sampai benar-benar kering. Saat panas terik, sehari saja cukup.

  5. Menyortir & mengikat

    Lidi dipilah menurut panjang dan mutu, lalu diikat rapi per bal, siap ditimbang.

    Ikatan biting bambu yang sudah disortir dan diikat per bal
  6. Menyetor ke pengepul

    Hasil serutan — bisa sampai kuintalan per keluarga — dijemput mobil pengepul dan dibayar tunai di tempat.

Musim hujan? Perapian yang bekerja.

Saat matahari tak muncul, lidi tak bisa kering dijemur. Pengrajin menyalakan perapian dan mengeringkan biting di atas baranya — cara lama yang tetap dipakai sampai sekarang.

Rahasia Mutu

Serutan Tangan Justru Lebih Rapi

Di dusun ini ada dua cara membuat biting — dan hasilnya tidak sama.

Serut TanganAndalan

  • Hasil lidi lebih rapi dan halus
  • Ukuran bisa disesuaikan permintaan
  • Mengandalkan jam terbang puluhan tahun

Mesin Semi-Manual

  • Lebih cepat — satu mesin bisa 50–100 kg per hari
  • Cocok untuk volume besar
  • Kerapian di bawah serutan tangan

Menurut pengrajin, serutan tangan menghasilkan lidi yang lebih rapi — mesin memang ringkas, tapi hasilnya kalah halus. Keduanya kini berjalan berdampingan: tangan menjaga mutu, mesin mengejar volume.

Orang-Orangnya

Wajah di Balik Biting

Dua dari sekian banyak keluarga penyerut di Dusun Segelan.

Bu Saima dan Pak Sukarji, pengrajin biting bambu Dusun Segelan

Bu Saima & Pak Sukarji

20 tahun menyerut

Suami-istri yang menekuni biting sebagai usaha keluarga. Keterampilannya warisan turun-temurun, dikerjakan setiap hari di sela waktu — hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari, disetor kuintalan ke pengepul.

Pak Suri, pengrajin biting bambu Dusun Segelan

Pak Suri

10+ tahun menyerut

Bersama istrinya memproduksi sekitar satu kuintal per minggu. Pernah merambah tusuk bakso sebelum pandemi, kini kembali fokus ke biting dupa — dan tetap memilih menjaga kerapian serutan tangan.

Sing penting telaten — bambu dipilih sing tuwek, dirajang alon-alon, hasile mesti apik.
Pengrajin biting, Dusun Segelan

Para pengrajin berharap akses pasar yang lebih luas dan dukungan pengembangan usaha — supaya kerajinan ini terus tumbuh dan makin banyak warga yang terangkat.

Untuk Pembeli

Spesifikasi & Pemesanan

Biting dijual per kilogram dalam ikatan. Untuk kebutuhan volume besar, mari diskusikan langsung.

Satuan jual
Per kg, diikat per bal
Varian
Lidi pendek & panjang
Harga
± Rp4.500–6.000 / kg
Kapasitas
Kuintalan per minggu per pengrajin
Pembayaran
Tunai / transfer
Pengambilan
Ambil di tempat / kirim (nego)

Harga dapat berubah mengikuti ukuran, proses (tangan/mesin), dan kondisi pasar.

Butuh Pasokan Biting?

Hubungi kami untuk harga terbaru, contoh produk, atau penjadwalan kunjungan langsung ke Dusun Segelan.

Pesan via WhatsApp

Dokumentasi

Sekilas dari Dapur Produksi

Jelajahi Potensi Lainnya